animasi  bergerak gif

Blogroll

Sabtu, 13 Oktober 2012

Sakramen


Pertanyaan Mendasar:
1. Apa itu Sakramen?
2. Apakah Gereja dapat disebut sebagai Sakramen?
3. Aspek-aspek simbolis apa saja yang terdapat dalam sebuah sakramen?
4. Sakramen apa saja yang dikenal dalam Gereja Katolik?
Pembahasan:
1. Apa itu Sakramen?
Sakramen adalah tanda dan sarana keselamatan Allah.
2. Apakah Gereja dapat disebut sebagai Sakramen?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengajukan pertanyaan kritis: “Apakah Gereja dapat menjadi tanda keselamatan Allah?” dan “Apakah Gereja mampu menghantar orang kepada keselamatan yang ditawarkan oleh Allah?”
Jika jawaban dari dua pertanyaan di atas adalah “ya”, maka Gereja dapat disebut sebagai sakramen.
Idealnya, Gereja adalah tanda kasih dan keselamatan Allah. Artinya, keberadaannya mampu mencerminkan damai, sukacita, ketentraman. Dan tidak hanya berhenti sebagai tanda, Gereja juga harus mampu menjadi sarana, menjadi ‘tempat’ yang tepat bagi pelaksanaan karya keselamatan Allah. Dengan kata lain, Gereja mampu membawa orang pada keselamatan Allah. Caranya? Mengajarkan dan melaksanakan ajaran Kristus di tengah dunia!
3. Aspek-aspek simbolis apa saja yang terdapat dalam Sakramen?
a. Aspek Kristologis
Tanda dan Sarana Keselamatan Allah itu tampak sangat jelas dalam pribadi Yesus Kristus. Yesus Kristuslah pemenuhan  janji penyelamatan Allah bagi manusia.
b. Aspek Antrophologis
Tanda dan Sarana Keselamatan Allah itu, meskipun telah dan selalu ditawarkan oleh Allah kepada manusia, tidak dapat terlaksana dalam diri manusia jika manusia tidak mau membuka diri terhadap Allah.
c. Aspek Eklesiologis
Tanda dan Sarana Keselamatan Allah itu, jika dialami oleh seorang anggota Gereja, tidak hanya dirayakan oleh yang bersangkutan secara pribadi tetapi menjadi perayaan Gereja.
4. Sakramen apa saja yang dikenal dalam Gereja Katolik?
Ada tujuh sakramen yang dikenal dalam Gereja Katolik:
a. Sakramen Baptis
b. Sakramen Tobat
c. Sakramen Komuni
d. Sakramen Krisma
e. Sakramen Perkawinan
f. Sakramen Imamat
g. Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Catatan: Sakramen Baptis, Komuni, dan Krisma disebut juga dengan sakramen inisiasi. Dengan kata lain, jika seorang anggota Gereja telah menerima ketiga sakramen itu maka ia dapat dikatakan sebagai anggota ‘penuh’ Gereja Katolik dan telah dianggap dewasa dalam iman. Sementara itu, upacara pemberkatan rumah dan benda-benda rohani disebut sebagai Sakramentali.


Keluarga


Pertanyaan Mendasar:
1. Apa itu Keluarga?
2. Apa peranku dalam keluarga?
3. Apa pengaruh keluarga bagi perkembanganku?
4. Apa nasihat Kitab Suci tentang Keluarga?

Pembahasan:
1. Apa itu Keluarga?
Kata keluarga berasal dari kata Sansekerta “Kaluwarga” yang berarti “anggota”. Jadi secara paling sederhana, keluarga dapat diartikan sebagai ‘sebuah kelompok yang terdiri dari anggota-anggota’. Namun, pengertian itu tentu mengundang tanya, “Siapakah yang menjadi anggota dalam kelompok keluarga itu?” Kamus Besar Bahasa Indonesia menjawabnya dengan mengartikan keluarga sebagai “ibu dan bapak beserta anak-anaknya.”
Keluarga adalah sebuah lingkungan yang terdiri dari orang-orang yang memiliki hubungan darah (orangtua dan anak-anak) atau hubungan berdasarkan hukum (suami-istri, keluarga angkat) yang berinteraksi satu sama lain, memiliki peran, hak dan tanggungjawab masing-masing. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang menjadikan seseorang tumbuh dan berkembang. Dari segi sosial dan kemasyarakatan, keluarga adalah organisasi atau unit terkecil dalam masyarakat.
Secara umum, keluarga dapat dibedakan menjadi dua:
a. Keluarga Inti/Batih (Nuclear Family) yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak.
b. Keluarga Luas/Besar (Extended Family) yang terdiri dari kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, dll.
2. Apa peranku dalam keluarga?
Masing-masing kebudayaan memiliki pola otoritas yang berbeda-beda. Di Indonesia, pada umumnya suku-suku yang ada (kecuali Minangkabau yang menganut Matriarkal), menganut sistem Patriarkal. Dalam sistim Patriarkal, otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh laki-laki (laki-laki tertua, umumnya ayah). Sementara itu, dalam sistim Matriarkal, otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh perempuan (perempuan tertua, umumnya ibu). Ada lagi pola otoritas yang berbeda dari keduanya yaitu sistim Equalitarian di mana pada sistim itu suami dan istri berbagi pengaruh secara seimbang. Kamu dapat melihat dan menyimpulkan sendiri, pola otoritas mana yang dianut oleh keluargamu.
Di Indonesia, pada umumnya peran masing-masing anggota keluarga dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Ayah, sebagai suami dari istri dan bapak bagi anak-anaknya, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungan dimana dia hidup.
b. Ibu, sebagai istri dari suami dan ibu bagi anak-anaknya, mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai anggota masyarakat dari lingkungan dimana dia hidup. Di samping itu, ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c. Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual. Anak kerap juga dilihat sebagai pelengkap kebahagiaan dalam keluarga.
3. Apa pengaruh keluarga bagi perkembanganku?
Keluarga memiliki fungsi rekreatif (biologis), fungsi spiritual, fungsi edukatif (pendidikan), fungsi afektif (kasih sayang), fungsi sosial, fungsi protektif dan fungsi ekonomi.
Ketika menjalankan fungsi rekreatif (biologis), keluarga adalah tempat untuk melanjutkan keturunan.
Ketika menjalankan fungsi spiritual, keluarga adalah tempat untuk membangun kepekaan spiritual anggota-anggotanya seperti menganut agama tertentu, membangun kebiasaan doa, kontemplasi, berderma, dll.
Ketika menjalankan fungsi edukatif (pendidikan), keluarga adalah tempat memberikan pengetahuan-pengetahuan dasar, memotivasi untuk belajar, membangun cita-cita akademis dan memberikan teladan berperilaku.
Ketika menjalankan fungsi afektif (kasih sayang), keluarga adalah tempat memberikan kasih sayang, membangun kepekaan perasaan, menghargai perasaan, dan membangun kepercayaan diri.
Ketika menjalankan fungsi sosial, keluarga adalah tempat membangun kepekaan sosial, belajar berelasi, berkomunikasi, sopan-santun, tata-krama dan respek kepada orang lain.
Ketika menjalankan fungsi protektif, keluarga adalah tempat berlindung yang aman bagi setiap anggotanya.
Ketika menjalankan fungsi ekonomi, keluarga adalah organisasi yang giat mencari nafkah, bekerja keras, menabung, berinvestasi, membangun dasar-dasar hidup yang efisien dan ekonomis dan mengajarkan prinsip-prinsip ekonomi yang mendasar bagi keturunan selanjutnya.

Sudahkah kamu menjadi Anggota Gereja?


Pertanyaan Mendasar:
1. Apa itu keanggotaan Gereja?
2. Siapa saja yang masuk dalam keanggotaan Gereja?
3. Bagaimana caranya untuk masuk dalam keanggotaan Gereja?
4. Apa peran dan tugas masing-masing anggota Gereja?
5. Bagaimana seharusnya Gereja itu menurut Kitab Suci?
Pembahasan:
1. Apa itu keanggotaan Gereja?
Kata dasar dari ‘keanggotaan’ adalah ‘anggota’. ‘Anggota’ itu berarti bagian dari sebuah kelompok. Secara sederhana, keanggotaan dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang menyangkut keikut-sertaan seseorang dalam sebuah kelompok tertentu. Nah, karena yang kita bahas di sini adalah keanggotaan Gereja, maka kita akan berdiskusi tentang seluk beluk keikut-sertaan seseorang dalam Gereja, dalam sebuah kelompok yang percaya kepada Kristus dengan segala dinamikanya.
2. Siapa saja yang masuk dalam keanggotaan Gereja?
Jawaban yang paling sederhana adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus adalah anggota Gereja.
Sedikit lebih rumit dari itu, orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis itu (= UBK = Umat Beriman Kristiani) dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar:
a. Kaum Tertahbis
Kaum tertahbis adalah UBK yang telah menerima tahbisan suci (sakramen Imamat). Mereka  adalah Paus, Kardinal, Uskup, Imam, dan Diakon.
b. Kaum Tidak Tertahbis/Awam
Kaum tidak tertahbis ini dapat dibedakan menjadi dua juga:
1. Kaum Awam Religius
Kaum Awam Religius adalah UBK yang tidak menerima tahbisan suci tetapi terikat kaul dalam sebuah ordo/tarekat hidup bakti tertentu. Contohnya para suster, bruder dan frater.
2. Kaum Awam Biasa
Kaum Awam Biasa adalah UBK yang tidak menerima tahbisan suci dan tidak terikat kaul dalam sebuah ordo/tarekat hidup bakti tertentu.

3. Bagaimana caranya untuk masuk dalam keanggotaan Gereja?
Seperti sudah dibahas di atas, syarat utama untuk menjadi anggota Gereja adalah percaya kepada Kristus dan bersedia untuk dibaptis dalam Nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Untuk Baptis Dewasa, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Kita akan mempelajarinya secara lebih mendetail dalam pokok bahasan “Sakramen Baptis”.
4. Apa peran dan tugas masing-masing anggota Gereja?
Secara paling umum, ada tiga tugas utama Gereja yaitu: mewartakan Kerajaan Allah, menguduskan, dan menggembalakan. Artinya, setiap anggota Gereja mempunyai tugas untuk mewartakan Kerajaan Allah, menguduskan diri dan sesama, dan menggembalakan (dalam bahasa yang lebih sederhana: melayani). Meskipun begitu, peran masing-masing anggota dalam tugas itu bisa berbeda-beda berdasarkan fungsinya masing-masing.
Kaum tertahbis, karena tahbisan (sakramen Imamat) yang diterimanya, memiliki fungsi mengajar/mewartakan, menguduskan, dan menggembalakan yang berbeda dengan kaum tak tertahbis. Kaum tertahbis memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan pokok-pokok iman kepada umat Allah, menguduskan mereka (salah satu caranya denga Perayaan Ekaristi), dan melayani mereka dengan pelayanan rohani dan menggembalakan/membimbing mereka di jalan yang benar dalam situasi dunia yang semakin sulit dan menantang.
Kaum tidak tertahbis juga memiliki peran dalam menjalankan tiga tugas utama Gereja itu. Di satu sisi, peran kaum tidak tertahbis nampaknya tidak terlalu berat karena tidak terlalu bertanggungjawab kepada UBK tetapi di sisi lain, kaum tidak tertahbis (khususnya kaum awam biasa) berhadapan langsung dengan realitas dunia yang semakin hari semakin menantang bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.

5. Bagaimana seharusnya Gereja itu menurut Kitab Suci?
Salah satu teks yang dapat membantu kita menjawab pertanyaan ini adalah 1 Korintus 12: 12-18, 27. Teks ini berbicara tentang ‘Tubuh Mistik Kristus’ (dalam Bahasa Latin ‘Mystici Corporis Christi’, dalam bahasa Inggris ‘The Mystical Body of Christ’).
Menurut teks itu, Gereja itu seumpama tubuh Kristus yang satu dan memiliki banyak anggota tubuh. Kita adalah satu tubuh (Gereja secara keseluruhan) dan masing-masing anggota memiliki peran dan tanggungjawabnya sendiri-sendiri.

Rabu, 10 Oktober 2012

Welcome

WELCOME TO MY BLOG
this blog is fill with information about how  we respect each other and other religion and some history of Jesus Holy story.


Hope you enjoy.

Pages